Minggu, 21 Juni 2015

Saung Angklung Udjo

Melanjutkan tulisan Bandung Trip hari pertama ke Kawah Putih yang sempat tertunda karena drama Demam Berdarah yang menerjang aku dan pak suami maka project tulisan perjalanan hari kedua baru dilanjutkan sekarang. Di hari kedua jalan-jalan personil bertambah 1 orang teman Yayu sejak semalam, jadi rombongan total sekarang adalah 4 dewasa dan satu anak kecil. Rute pertama perjalanan adalah makan Mie Bakso Akung yang terletak di Jl. Lodaya No.123, Bandung. Ceker dan pangsit kuah tetap jadi menu favoritku disini, dan ternyata mas Banu juga suka (emang pada dasarnya anak ini doyan ceker). Perut kenyang, lalu lanjut ke rute berikutnya, yaitu Saung Angklung Udjo yang berada di Jl.Padasuka No.118. 

Sebagai informasi yang dikutip dari sumber Wikipedia, Saung Angklung Udjo dibangun pada tahun 1966 oleh Udjo Ngalagena atau juga dikenal sebagai Mang Udjo bersama dengan istrinya, Uum Sumiati, dengan tujuan melestarikan seni dan budaya tradisional Sunda.Sesuai dengan tema yang mengusung 'saung' suasana tempat ini memang asri dengan dikelilingi pohon bambu dan bangunan yang didominasi bambu. 



denah Saung Angklung Udjo
Di tempat ini terdapat sasana untuk pertunjukkan (yang sayangnya ketika disana sedang tidak ada pertunjukkan yang berlangsung melainkan suasana sibuk persiapan menjelang KAA dimana Saung Angklung Udjo menjadi bagian dalam rangkaian acaranya), serta toko oleh-oleh yang menjual hasil tangan perajin lokal yang membuat aneka macam angklung mulai dari yang mini sampai yang besar, wayang, dan berbagai benda kerajinan lainnya. Di lokasi ini juga terdapat pusat produksi angklung dimana pengunjung dapat melihat cara membuat angklung dan bahkan bisa mencoba membuatnya sendiri. 







Berdasarkan informasi yang dikutip dari blog verdisebandung di Saung Angklung Udjo anda bisa melihat berbagai macam kesenian seperti demontrasi wayang golek, upacara heleran, tari tradisional, angklung pemula, angklung orchestra masal dan arumba serta yang paling membuat terkesan yaitu wisatawan akan diajak untuk menari dengan anak-anak. Suasana seperti inilah yang membuat para wisatawan yang pernah berkunjung kemari ingin kembali lagi untuk merasakan suasana khas sunda. Pertunjukan yang rutin berlangsung di Saung Angklung Udjo adalah pertunjukkan Bambu Petang yang biasa ditampilan setiap hari mulai pukul 15.30 wib.

Harga tiket masuk untuk menyaksikan pertunjukkan di Saung Angklung Udjo adalah sebagai berikut :
Wisatawan Lokal             : Rp. 60.000
Wisatawan Mancanegara : Rp. 100.000
Pelajar                            : Rp. 35.000
Harga itu sudah termasuk souvenir berupa kalung berbandul angklung, brosur dan minuman gratis.

Angklung merupakan instrumen musik tradisional yang terbuat dari bambu dan pengembangan dari instrumen Calung yaitu tabung bambu yang dipukul, sedangkan angklung merupakan tabung bambu yang digoyang, menghasilkan hanya satu nada untuk setiap instrumennya. Awalnya angklung hanya bernada pentatonis (da mi na ti la) oleh karena itu dibutuhkan puluhan orang untuk memainkan angklung agar terdengar harmonis. Maka bisa dibilang bermain angklung juga membentuk kerjasama team yang solid.

Kini dengan teknik tertentu angklung  bisa dimainkan oleh beberapa orang saja dan bahkan bisa ditampilkan dalam bentuk orkestra yang bisa memainkan tidak hanya lagu daerah tetapi juga lagu pop populer bahkan lagu internasional.

1 komentar: