Kadang kadang kalau lagi iseng kepingin bikin cemilan ala ala resto junkfood tapi bikin sendiri di rumah, salah satunya yang gampang dibuat adalah Onion Ring ini. Onion ring ini enak buat dimakan hangat dengan porsi cukup, alias ngga kebanyakan, kalau kebanyakan rasanya eneg, bawang bombay gitu loo :). Onion ring dengan 1 bawang bombay ukuran sedang rasanya pas untuk sekali makan sekeluarga.
Bahan - bahan :
- Bawang Bombay ukuran sedang 1 buah
- susu cair dingin 100ml
- tepung beras 300gr
- garam 1 sendok teh
- lada bubuk 1/2 sendok teh
- minyak secukupnya untuk menggoreng
Cara Membuat :
1. Iris melintang bawang bombay, lalu urai ringnya satu persatu.
2. Buat larutan basah (batter) dengan mencampurkan susu dingin dengan 4 sendok makan tepung beras, aduk rata.
3. Buat larutan kering dengan mengaduk rata tepung beras sisanya dengan garam dan lada bubuk.
4. Celupkan ring bawang bombay ke larutan basah lalu gulingkan di adonan kering, lakukan hal yang sama sekali lagi supaya tepung agak tebal.
5. Goreng dalam minyak sedang sampai matang kecoklatan dan Onion Ring siap dihidangkan.
Catatan : Jika di rumah tidak sedia susu cair dingin bisa diganti dengan air es dingin. Onion ring dengan resep seperti diatas renyah cukup lama, ada yg bilang jika dicampur dengan tepung maizena akan lebih renyah, tapi blm sempat nyoba.
Selamat bepesta Onion Ring!
Beragam pengalaman yang mungkin bisa jadi referensi bagi orang lain, dan bisa diceritakan untuk anak cucuku nanti.
Rabu, 08 April 2015
Rabu, 01 April 2015
Resep Perkedel Kornet
Bahan :
- 1 kg kentang
- kornet kira-kira 120-150 gram (sesuai selera)
- 2 butir telur
- bawang goreng 2 jumput
- garam secukupnya
- gula pasir secukupnya
- lada bubuk secukupnya
- minyak untuk menggoreng
Cara membuat :
1. Kupas kentang, cuci bersih lalu potong sedang.
2. Goreng kentang sampai matang, angkat dan tiriskan.
3. Campur kornet, bawang goreng, garam, gula, dan lada lalu tumbuk (bisa menggunakan chopper, bisa juga pakai ulekan) sampai kentang halus. Setelah itu campurkan satu butir telur ke dalamnya lalu aduk rata.
4. Pulung adonan kentang (karena kelamaan dibuletin satu persatu saya menggunakan 2 buah sendok makan, bolak balik adonan dengan bantuan 2 sendok makan) lalu masukkan ke kocokan telur (satu butir telur lainnya taruh dalam mangkok lalu kocok lepas). Adonan yang telah terbalut telur langsung goreng.
5. Inilah hasil jadinya, kalau kebanyakan adonan bs simpan di freezer, bulatkan lalu cemplung ke kocokan telur dan goreng sesaat sebelum makan.
Senin, 09 Maret 2015
Chipmunk Playland Bekasi
Sebenarnya mengunjungi Chipmunk Playland ini di minggu kemarin, ketika si mas dan bunda sudah sembuh maka gatel lah kita berdua untuk jalan-jalan (walau sebenernya saat itu bundanya masih rada pusing). Berpikir mau kemana yang ngga jauh (karena masih rada pusing nyetir jauh) jadilah merencanakan nonton dan main di playland (haha, naluri emak-emaknya ga bs di bo'ongin, mau refreshing yang dipikirin buat anak, bukannya refreshing sendiri kek ke salon).
Teringat ada teman yang bilang kalau Chipmunk Playland yang di bekasi sudah buka kembali (belum paham sebenernya soal 'buka kembali' karena memang taunya ya Chipmunk ini adanya di Mall Kota Casablanca aja tapi ternyata dulunya katanya memang pernaah buka di Bekasi). Maka selagi si mas masih di sekolah meluncurlah ke oom Google, browsing Chipmunk yang di Bekasi dan sekaligus liat jadwal bioskop. Hasilnya di bioskop ada Shaun The Sheep Movie yang asik ditonton berdua. Pulang si mas sekolah langsung meluncurlah kita berdua ke Mega Bekasi Hypermall (itu looo Moll yg ada Giant nya yang di depan MM).
Chipmunk Bekasi memang lebih kecil dari Chipmunk Kota Casablanca, dari harga tiket juga jelas beda yaaa, tapi overall cukup lengkap lahhh, apalagi pas berkunjung di weekday sepi dan si mas mainnya puass. Huhu...gimana ngga puaass, bayangin aja main dari abis nonton jam setengah 4 lanjut terus sampe jam setengah 8 malem, sampe habis air putih satu botol sedeng, sholat ashar dan magrib disitunya, ngga kerasa laper juga dia (karna sebelum masuk sudah habis 2 roti boy), bundanya udah dari berbagai gaya, dari sesekali masuk ikut main, liat-liat kerudung di lantai bawah, nyariin cover handphone masih belum selesai juga.
Karena ngga terlalu banyak pengunjung jadi mas-mas dan mba-mba penjaganya antusias banget, mau main apa-apa dijagain. Mas banu nyobain semuanya, dari mulai bom bom car, seluncuran yang tinggi banget, tembak-tembakan bola, main balok, tinju-tinjuan, terowongan, flying fox sampe main di tempat anak balita. Padahal bundanya niiih udah ngilu ngeliat tingginya itu seluncuran, tapi anaknya mah cuekkk bolak balik meluncur.
Jadiii yang tinggal di Bekasi dan sekitarnya bisa jadi alternatif yaaah, ngga perlu jauh-jauh ke Kota Casablanca untuk main di Chipmunk.
Teringat ada teman yang bilang kalau Chipmunk Playland yang di bekasi sudah buka kembali (belum paham sebenernya soal 'buka kembali' karena memang taunya ya Chipmunk ini adanya di Mall Kota Casablanca aja tapi ternyata dulunya katanya memang pernaah buka di Bekasi). Maka selagi si mas masih di sekolah meluncurlah ke oom Google, browsing Chipmunk yang di Bekasi dan sekaligus liat jadwal bioskop. Hasilnya di bioskop ada Shaun The Sheep Movie yang asik ditonton berdua. Pulang si mas sekolah langsung meluncurlah kita berdua ke Mega Bekasi Hypermall (itu looo Moll yg ada Giant nya yang di depan MM).
Chipmunk Bekasi memang lebih kecil dari Chipmunk Kota Casablanca, dari harga tiket juga jelas beda yaaa, tapi overall cukup lengkap lahhh, apalagi pas berkunjung di weekday sepi dan si mas mainnya puass. Huhu...gimana ngga puaass, bayangin aja main dari abis nonton jam setengah 4 lanjut terus sampe jam setengah 8 malem, sampe habis air putih satu botol sedeng, sholat ashar dan magrib disitunya, ngga kerasa laper juga dia (karna sebelum masuk sudah habis 2 roti boy), bundanya udah dari berbagai gaya, dari sesekali masuk ikut main, liat-liat kerudung di lantai bawah, nyariin cover handphone masih belum selesai juga.
![]() |
| Harga tiket |
![]() |
| perosotannya tinggi kannn |
![]() |
| flying fox |
![]() |
| bom-bom car dan area balita |
![]() |
| ruang tunggu pendamping sekaligus tempat makan |
Jadiii yang tinggal di Bekasi dan sekitarnya bisa jadi alternatif yaaah, ngga perlu jauh-jauh ke Kota Casablanca untuk main di Chipmunk.
Rabu, 18 Februari 2015
Resep Soes isi Krim Keju
Kue soes adalah salah satu favoritnya anak-anak, termasuk anakku.
Dann yang bikin si mas makin suka adalah isi soes buatan bundanya ini
beda dari biasanya, karna isinya cream keju yang gurih khas keju.
Mengingat soes yang biasa dijual berisi fla manis yaa. Selain si mas
jagoan kecil, yandanya juga suka banget plus ipar-iparku suka, jadilah
kalau ada acara keluarga aku bawain soes yang siap disantap ramai-ramai.
Resep soes ini sudah kumodifikasi kanan kiri dari resep bawaan kursus kue yang pernah kuikuti. Jadiii kalau mau dimodifikasi yaa monggo, kalau aku menggunakan takaran berikut sudah merasa paling pas :)
Bahan kulit soes :
Margarine 125gr
air putih 250ml
Telur sekitar 3 - 4 butir
Terigu protein sedang (segitiga biru yang bungkus putih) 150gr
Bahan isian cream keju:
Royal Krone 300gr
Sebagai informasi royal krone ini adalah sejenis margarine, hanya dijual di toko khusus bahan kue. Royal krone bisa dibilang perpaduan antara margarine dan butter sehingga aromanya wangi dan rasanya lebih lembut setelah di mixer, selain untuk isian soes aku sering pakai royal krone ini untuk cream lapisan di kue vanilla cheese cake. Kalau susah cari royal krone aku pernah pakai margarine merek dagang margarita, lumayan lembut juga kok.
Icing Sugar 100gr
Susu kental manis putih 8 sendok makan
Keju blok diparut sekitar 100-125 gram (sesuai selera, kalau anakku suka yang keju banget, jadi kubanyakin)
Cara Membuat :
1. Masak margarine dan air hingga mendidih.
2. Segera setelah mematikan kompor langsung masukkan tepung dan aduk sampai kental dan uap menghilang
3. Jika uap telah hilang lanjutkan mengaduk adonan dengan mixer sampai benar-benar dingin.
4. Pastikan adonan telah benar-benar dingin sebelum memasukkan telur satu persatu (Jika adonan masih panas akan membuat telur matang dalam adonan dan membuat soes kurang mengembang sempurna).
5. Jangan memasukkan telur sekaligus, untuk mendapatkan tekstur yang pas. Hentikan memasukkan telur ketika adonan telah berada pada perasaan atara kental dan tidak (apa siiih bahasanya) intinya jika mixer diangkat masih bisa jatuh, tapi berjejak.
6. Masukkan adonan dalam plastik segitiga yang telah diberi spuit bolongan besar dengan ujung bergerigi.
7. Beri tepung pada loyang agar soes tidak peyot. Kenapa tepung ? dan bukan mentega atau kertas roti ? jawaban pertanyaan ini lupa ya waktu itu perasaan ada yg nanya pas kelas kursus nya.
8. Bentuk adonan pada loyang, jangan terlalu besar dan jangan rapat karena akan mengembang. Kalau di keluargaku sukanya versi soes sedang yang tidak kebesaran, paling tidak pas untuk sekali caplok.
9. Panaskan oven dan masukkan loyang ketika sudah panas. Jangan buka-buka oven selama soes dibakar, cukup lihat aja dari kaca oven.
10. Jika soes sudah matang (kira-kira 20 menit di dalam oven) anginkan beberapa saat lalu beri bolongan dan isi dengan krim keju.Jangan isi ketika soes masih panas, karena krim keju akan meleleh di dalamnya.
Selamat menikmati :)
Resep soes ini sudah kumodifikasi kanan kiri dari resep bawaan kursus kue yang pernah kuikuti. Jadiii kalau mau dimodifikasi yaa monggo, kalau aku menggunakan takaran berikut sudah merasa paling pas :)
Bahan kulit soes :
Margarine 125gr
air putih 250ml
Telur sekitar 3 - 4 butir
Terigu protein sedang (segitiga biru yang bungkus putih) 150gr
Bahan isian cream keju:
Royal Krone 300gr
Sebagai informasi royal krone ini adalah sejenis margarine, hanya dijual di toko khusus bahan kue. Royal krone bisa dibilang perpaduan antara margarine dan butter sehingga aromanya wangi dan rasanya lebih lembut setelah di mixer, selain untuk isian soes aku sering pakai royal krone ini untuk cream lapisan di kue vanilla cheese cake. Kalau susah cari royal krone aku pernah pakai margarine merek dagang margarita, lumayan lembut juga kok.
Icing Sugar 100gr
Susu kental manis putih 8 sendok makan
Keju blok diparut sekitar 100-125 gram (sesuai selera, kalau anakku suka yang keju banget, jadi kubanyakin)
Royal Krone, icing sugar dan susu kental manis mixer sampai warna agak putih dan bervolume serta tekstur yang lembut, kalau aku pribadi biasanya mixer antara 15-20 menit. Setelah itu masukkan keju dan mixer dengan speed rendah sebentar, agar tekstur keju masih terasa. Atau sering keju kuaduk dengan spatula saja, supaya masih tetap kasar.
Cara Membuat :
1. Masak margarine dan air hingga mendidih.
2. Segera setelah mematikan kompor langsung masukkan tepung dan aduk sampai kental dan uap menghilang
3. Jika uap telah hilang lanjutkan mengaduk adonan dengan mixer sampai benar-benar dingin.
4. Pastikan adonan telah benar-benar dingin sebelum memasukkan telur satu persatu (Jika adonan masih panas akan membuat telur matang dalam adonan dan membuat soes kurang mengembang sempurna).
5. Jangan memasukkan telur sekaligus, untuk mendapatkan tekstur yang pas. Hentikan memasukkan telur ketika adonan telah berada pada perasaan atara kental dan tidak (apa siiih bahasanya) intinya jika mixer diangkat masih bisa jatuh, tapi berjejak.
6. Masukkan adonan dalam plastik segitiga yang telah diberi spuit bolongan besar dengan ujung bergerigi.
7. Beri tepung pada loyang agar soes tidak peyot. Kenapa tepung ? dan bukan mentega atau kertas roti ? jawaban pertanyaan ini lupa ya waktu itu perasaan ada yg nanya pas kelas kursus nya.
8. Bentuk adonan pada loyang, jangan terlalu besar dan jangan rapat karena akan mengembang. Kalau di keluargaku sukanya versi soes sedang yang tidak kebesaran, paling tidak pas untuk sekali caplok.
9. Panaskan oven dan masukkan loyang ketika sudah panas. Jangan buka-buka oven selama soes dibakar, cukup lihat aja dari kaca oven.
10. Jika soes sudah matang (kira-kira 20 menit di dalam oven) anginkan beberapa saat lalu beri bolongan dan isi dengan krim keju.Jangan isi ketika soes masih panas, karena krim keju akan meleleh di dalamnya.
Selamat menikmati :)
Resep Daging Lapis
Resep ini kudapat dari mama mertua karena ngeliat si mas kecil yang doyan banget makan pakai daging lapis ini kalau ke rumah eyang uthie nya. Sebenernya belum pernah lihat mama mertua masak masakan daging lapis ini, karena ketika berkunjung sudah disajikan, karena penasaran aku tanya aja resepnya. Daaaan ternyata gampangggg :)
Bahan :
- 1/2 kg daging has luar
(kenapa has luar ? kalau has dalem teksturnya terlalu empuk, jadi belum dimasak lama sudah hancur, alhasil bumbu kurang meresap)
- Telur Ayam 3 butir
- Bawang merah dan bawang putih
(nah ini pakai teknik kira-kira, yang pasti bawang merah lebih banyak dari bawang putih, perbandingannya 5 bawang merah 3 bawang putih kali yaa, aduh bingung nih kalo diresepin, kebiasaan masak pake feeling)
- Kecap Manis
- Gula
- Garam
- Lada halus
- Air
Cara Membuat :
- Iris daging sesuai seratnya, lalu sayat-sayat dengan pisau
(kenapa disayat-sayat, karena nantinya telur akan masuk ke sayatannya, maka itulah disebut daging lapis)
- Rajang halus bawang merah dan bawang putih
(karena aku favorit sama bawang bombay, bisa dimodifikasi tambahin bawang bombay, jadi lebih gurih loo)
- Masih dalam keadaan api mati, masukkan bawang merah dan bawang putih ke wajan, lalu masukkan telur ayam mentah ke dalamnya, kocok dengan garpu
- Masukkan potongan daging sampai terendam kocokan telur, lalu nyalakan api kecil, diamkan dan pastikan daging terendam telur
- Setelah beberapa saat telur akan mulai set, disinilah dituntut kecepatan tangan untuk mengocok lagi telur dan daging sampai telur menjadi cacahan kecil sebelum benar-benar set. Kalau sudah benar benar set dan masih ada telur yang besar tinggal angkat trus cacah di mangkuk lalu masukkan lagi ke wajan.
- Masukkan air, lalu beri kecap manis sekitar 2 sdm dan gula + garam + lada halus sesuai selera
- Tutup wajan sambil sesekali diaduk. Pastikan air jangan terlalu habis (asat), jika air sudah sedikit maka tambah lagi sampai daging empuk.
- Agar empuknya maksimal aku biasanya memasak kembali di panci presto selama kurang lebih 15 menit, jadi selain bumbu makin meresap daging pun enak disantap.
- Jika rasa sudah pas dan kadar air dirasa cukup , matikan kompor dan siap disantap dengan nasi hangat.
Rasa masakan daging lapis ini bisa dibilang mirip dengan semur (memang bumbunya serupa kok) dan sama sekal tidak pedes. Jadi pas disantap untuk anak-anak, dan biasanya aku bikin sekaligus 1kg daging yang ketika matang sebagian untuk disajikan sebagai lauk makan hari itu dan sebagian lagi disimpan di kulkas, jadi bisa dikeluarkan ketika males masak :D. Karena rasanya yang cenderung gurih manis, aku dan suamiku kalau makan dikasih saos lagi biar ada rasa pedasnya. Paling tidak ngga perlu bikin 2 jenis menu masakan yaa (yang versi aga pedas untuk dewasa dan versi non pedas untuk anak) karena memang aku cenderung males masak beda-beda gitu, jadi si mas ngikutin aja masakan yang dimasak bundanya :)
Minggu, 15 Februari 2015
Resep Udang Tumis Pedas Manis
Salah satu menu favorit dan cepat bikinnya
adalah udang pedas manis ini, mungkin berbeda dengan resep udang pedas
manis lainnya, kalau yang ini ala aku yaa, rasanya pedes manis gurih
segar Menu ini enak dimakan hangat pas hujan-hujan dan kalau anakku makan itu sampai-sampai si kepala udah dihisap-hisap saking gurihnya.
bahan :
- udang besar 1/4kg
- jeruk nipis 1 buah
- cabe merah besar 5 buah, iris serong
- cabe hijau besar 5 buah, iris serong
- tomat 1 buah, potong kecil
- bawang merah 4 butir, iris halus
- bawah putih 4 butir, iris halus
- gula dan garam secukupnya
- lada bubuk
- saus tiram 1 sdm
- minyak secukupnya
- air putih secukupnya
cara membuat :
- cuci udang, jangan buang kepala dan kulitnya, biarkan utuh (kalau aku paling potong kumisnya yg panjang panjang ituu). Lumuri dengan air jeruk nipis, lalu beri garap dan lada secukupnya, aduk aduk dan biarkan sebentar.
- beri minyak secukupnya pada wajan
- tumis bawang merah, bawang putih, cabe mrah dan cabe hijau sampai layu.
- bila sudah berbau wangi (tidak langu seperti masih mentah) masukkan air putih, tomat dan saus tiram biarkan sampai air mendidih.
- masukkan udang, beri gula dan garam sesuai selera
- tutup wajan agar bumbu meresap ke udang, aduk beberapa kali
- angkat.
catatan :
- memasak udang usahakan tidak terlalu lama agar udang tetap empuk dan fresh.
- jika disajikan untuk anak anak kurangi cabai merah dan cabai hijau
bahan :
- udang besar 1/4kg
- jeruk nipis 1 buah
- cabe merah besar 5 buah, iris serong
- cabe hijau besar 5 buah, iris serong
- tomat 1 buah, potong kecil
- bawang merah 4 butir, iris halus
- bawah putih 4 butir, iris halus
- gula dan garam secukupnya
- lada bubuk
- saus tiram 1 sdm
- minyak secukupnya
- air putih secukupnya
cara membuat :
- cuci udang, jangan buang kepala dan kulitnya, biarkan utuh (kalau aku paling potong kumisnya yg panjang panjang ituu). Lumuri dengan air jeruk nipis, lalu beri garap dan lada secukupnya, aduk aduk dan biarkan sebentar.
- beri minyak secukupnya pada wajan
- tumis bawang merah, bawang putih, cabe mrah dan cabe hijau sampai layu.
- bila sudah berbau wangi (tidak langu seperti masih mentah) masukkan air putih, tomat dan saus tiram biarkan sampai air mendidih.
- masukkan udang, beri gula dan garam sesuai selera
- tutup wajan agar bumbu meresap ke udang, aduk beberapa kali
- angkat.
catatan :
- memasak udang usahakan tidak terlalu lama agar udang tetap empuk dan fresh.
- jika disajikan untuk anak anak kurangi cabai merah dan cabai hijau
Selasa, 10 Februari 2015
Resep Ayam Kalasan
hujan awett, bingung mau masak apa, hmmm....gimana kalau Ayam Kalasan, makan dengan nasi panas rasanya hmmm, perpaduan manis gurihnya itu looo, bikin lidah bergoyang apalagi dicocol sambel, wuihhhh bikin makan 2 piring dehhh. Ini resepnya ala aku yaa
Ayam Kalasan
Bahan :
- 1,5 ekor ayam
- 500ml air kelapa
- air jeruk nipis 2sdm
- gula merah 1 buah (hancurkan)
- kecap manis 1sdm
Bumbu halus :
- 12 butir bawang merah
- 8 butir bawang putih
- kurang lebih 5 cm lengkuas
- garam 1,5sdm
Cara membuat :
- cuci bersih ayam lalu lumuri dengan jeruk nipis
- campur semua bahan dalam wajan, aduk hingga merata, lalu masukkan ayam, pastikan ayam terendam bumbu kemudian nyalakan kompor dengan api desang lalu tutup
- buka sesekali wajan dan aduk agar bumbu merasap rata ke seluruh bagian ayam
- lakukan terus sampai air pada wajan habis (asat)
- biarkan ayam adem, lalu goreng
- sajikan
pertanyaan yang mungkin :
- Kenapa pakai wajan bukan panci ? karena menggunakan gula merah maka potensi lengket sangat besar, kalau panci kan susah ngaduknya, jadi enakan pakai wajan
- berapa lama sampai air benar-benar asat ? yaaa kira-kira setengah jam lah yaa, dengan api sedang
- boleh ganti gula merah dengan gula pasir (gula putih) ? blm pernah coba, tapi kayaknya rasa legitnya jadi beda ya
- kecapnya habis, boleh ngga pakai kecap ? boleh ajaa, kecap itu modifikasi kok
nah kalau ada pertanyaan lagi silahkan komentar yaaa, feel free to ask
Senin, 29 Desember 2014
Jalan-jalan ke Taman Mini Indonesia Indah
Sebenarnya ini bukan pertama kalinya si mas ke Taman Mini Indonesia Indah, mengingat rombongan sekolah setiap tahun pasti ada jadwal ke Keong Mas, dan tahun kemaren sudah pernah juga janjian playdate dengan sepupu dan para oom oom lengkap dengan akung dan uthie.
Pagi ini uthie (mama mertuaku- yang dipanggil uthie oleh para cucu) tiba-tiba telepon dan menanyakan objek wisata anak-anak yang deket rumahku untuk ajak kakak Untsa dan Abang Rayya yang menginap di rumahnya sejak kemarin. Nah kalau tempat wisata selain Mall (bosen akut sama Mall) yang deket sini sih memang hanya Taman Mini (hanya berselang 2 pintu tol dengan waktu tempuh antara 15-20menit saja), maka jadilah siang-siang kita ber-7 (aku, mas banu, kakak ipar dan 2 anaknya serta uthie dan akung) sowan ke sana setelah makan siang di rumah.Tujuan kali ini adalah mengunjungi Musium Keprajuritan, Musium Reptilia dan naik kereta Titihan Samirono.
Sebagai informasi, tiket masuk Taman Mini Indonesia Indah reguler adalah Rp.10.000/orang, karena kita berkunjung di musim liburan maka tiket masuknya kena harga spesial, Rp.15.000/orang plus tiket mobil Rp.10.000.
Tujuan pertama : Musium Keprajuritan
Tiket masuk ke dalam musium ini murah saja, cukup Rp.2500/orang, itupun hanya dewasa saja yang diwajibkan membeli tiket, anak-anak tidak perlu. Tampak luar musium terlihat sangat megah dengan bangunan benteng kokoh segi lima. Di halaman depan benteng terdapat danau buatan dilengkapi dermaga mini yang terlihat melambangkan tanah air Indonesia dengan kesibukan kemaritiman yang dilengkapi dua kapal tradisional Phinisi (Bugis) dan Banten (Jawa Barat). Berdasarkan informasi adanya kedua kapal tersebut melambangkan kekuatan armada maritim bangsa Indonesia di kawasan Barat dan Timur. Sayangnya diorama-diorama bersejarah ini tidak difasilitasi dengan pencahayaan memadai, kondisi ruangan yang remang-remang menjadikan kesan bosan bagi pengunjungnya. Padahal wisata musium itu penting ya buat anak-anak, andai saja diperbagus agar menarik, maka anak-anak pasti suka.
Di lantai atas musium terdapat diorama pertahanan Bangsa Indonesia dengan informasi beragam pakaian prajurit, senjata dari masing masing daerah serta napak tilas bermacam pemberontakan besar ketika masih di jajah. Di dalam musium juga disajikan diorama beragam formasi tempur berbagai bentuk, mulai dari formasi kepiting, formasi gajah, dll.Di bagian belakang musium terdapat patung pahlawan-pahlawan yang mengelilingi sebuah aula untuk acara-acara khusus.
Tujuan kedua : Taman Reptilia & Museum Komodo
Sesuai dengan judulnya, Musium Komodo ini memiliki bangunan utama berbentuk komodo raksasa. Tiket masuk Musium Komodo ini Rp.15.000/orang, lebih mahal memang, tapi wajar yaa kurasa, karena buaya buaya itu kan makanannya juga daging dan ayam utuh, wajar tiket masuknya lebih mahal (sedikit) karena hewan-hewan tersebut perawatan dan makannya juga ngga murah.
Di dalam bangunan komodo tersebut terdapat diorama beragam hewan yang ada di Indonesia dengan setting hutan belantara, jadi bukan hanya diorama komodo dan reptilia, tetapi ada banyak hewan lainnya seperti kupu-kupu, harimau, beruang, dll.
Bagian luar Taman Reptilia & Musium Komodo terdapat kandang-kandang beragam reptilia dan komodo. Diantaranya ada buaya beberapa buaya besar, iguana, komodo, kadal, dll. Hewan-hewan di bagian luar musium adalah hewan asli (bukan patung) termasuk buaya besar (dengan panjang kita kira lebih dari 1,5m) yang hampir dikira patung oleh si mas dan abang karena mangap tanpa gerak sedikitpun. Hiiii.....lihat dari panjangnya buaya tersebut plus gigi-gigi yang terlihat super tajam jadi merinding sendiri.
Tujuan Terakhir : Naik Kereta Titihan Samirono
Kenapa ini tujuan terakhir ? yahhh maklum...para bocil sudah terlihat agak capek plus uthie yang sudah ngga kuat lagi jalan lama-lama, maka jadilah acara naik kereta monorel ini sebagai penutup. Tiket naik kereta Titihan Samirono Rp.30.000/orang, terbilang cukup mahal dengan kondisi kereta yang bisa dibilang kurang perawatan. Sayang banget ya, padahal banyak looo peminatnya.
Sebelum pulang si mas sempat berbisik kepingin mampir di Musium Transportasi dan Dunia Air Tawar, tetapi berhubung kita pergi bersama, maka kepentingan bersama lah yang harus diutamakan, yaitu pulang dan istirahat, sambil berjanji 'Nanti yaa sayang, kita kesini lagi', ditamah lagi ketika diajak kakak Untsa bilang sudah pernah ke kedua tempat itu. Jadiiii...tunggu cerita kunjungan ke Taman Mini Indonesia Indah berikutnya yaa....
nb : dalam postingan ini jangan nyari foto yang ada akunya yaa pemirsa, karena ngga ada....jadi juru foto doang, ga bisa mejeng eksyen, gapapa lahhh sekali sekali ngga ngeksis :D
Pagi ini uthie (mama mertuaku- yang dipanggil uthie oleh para cucu) tiba-tiba telepon dan menanyakan objek wisata anak-anak yang deket rumahku untuk ajak kakak Untsa dan Abang Rayya yang menginap di rumahnya sejak kemarin. Nah kalau tempat wisata selain Mall (bosen akut sama Mall) yang deket sini sih memang hanya Taman Mini (hanya berselang 2 pintu tol dengan waktu tempuh antara 15-20menit saja), maka jadilah siang-siang kita ber-7 (aku, mas banu, kakak ipar dan 2 anaknya serta uthie dan akung) sowan ke sana setelah makan siang di rumah.Tujuan kali ini adalah mengunjungi Musium Keprajuritan, Musium Reptilia dan naik kereta Titihan Samirono.
Sebagai informasi, tiket masuk Taman Mini Indonesia Indah reguler adalah Rp.10.000/orang, karena kita berkunjung di musim liburan maka tiket masuknya kena harga spesial, Rp.15.000/orang plus tiket mobil Rp.10.000.
Tujuan pertama : Musium Keprajuritan
Tiket masuk ke dalam musium ini murah saja, cukup Rp.2500/orang, itupun hanya dewasa saja yang diwajibkan membeli tiket, anak-anak tidak perlu. Tampak luar musium terlihat sangat megah dengan bangunan benteng kokoh segi lima. Di halaman depan benteng terdapat danau buatan dilengkapi dermaga mini yang terlihat melambangkan tanah air Indonesia dengan kesibukan kemaritiman yang dilengkapi dua kapal tradisional Phinisi (Bugis) dan Banten (Jawa Barat). Berdasarkan informasi adanya kedua kapal tersebut melambangkan kekuatan armada maritim bangsa Indonesia di kawasan Barat dan Timur. Sayangnya diorama-diorama bersejarah ini tidak difasilitasi dengan pencahayaan memadai, kondisi ruangan yang remang-remang menjadikan kesan bosan bagi pengunjungnya. Padahal wisata musium itu penting ya buat anak-anak, andai saja diperbagus agar menarik, maka anak-anak pasti suka.
Di lantai atas musium terdapat diorama pertahanan Bangsa Indonesia dengan informasi beragam pakaian prajurit, senjata dari masing masing daerah serta napak tilas bermacam pemberontakan besar ketika masih di jajah. Di dalam musium juga disajikan diorama beragam formasi tempur berbagai bentuk, mulai dari formasi kepiting, formasi gajah, dll.Di bagian belakang musium terdapat patung pahlawan-pahlawan yang mengelilingi sebuah aula untuk acara-acara khusus.
Tujuan kedua : Taman Reptilia & Museum Komodo
Sesuai dengan judulnya, Musium Komodo ini memiliki bangunan utama berbentuk komodo raksasa. Tiket masuk Musium Komodo ini Rp.15.000/orang, lebih mahal memang, tapi wajar yaa kurasa, karena buaya buaya itu kan makanannya juga daging dan ayam utuh, wajar tiket masuknya lebih mahal (sedikit) karena hewan-hewan tersebut perawatan dan makannya juga ngga murah.
Di dalam bangunan komodo tersebut terdapat diorama beragam hewan yang ada di Indonesia dengan setting hutan belantara, jadi bukan hanya diorama komodo dan reptilia, tetapi ada banyak hewan lainnya seperti kupu-kupu, harimau, beruang, dll.
Bagian luar Taman Reptilia & Musium Komodo terdapat kandang-kandang beragam reptilia dan komodo. Diantaranya ada buaya beberapa buaya besar, iguana, komodo, kadal, dll. Hewan-hewan di bagian luar musium adalah hewan asli (bukan patung) termasuk buaya besar (dengan panjang kita kira lebih dari 1,5m) yang hampir dikira patung oleh si mas dan abang karena mangap tanpa gerak sedikitpun. Hiiii.....lihat dari panjangnya buaya tersebut plus gigi-gigi yang terlihat super tajam jadi merinding sendiri.
Tujuan Terakhir : Naik Kereta Titihan Samirono
Kenapa ini tujuan terakhir ? yahhh maklum...para bocil sudah terlihat agak capek plus uthie yang sudah ngga kuat lagi jalan lama-lama, maka jadilah acara naik kereta monorel ini sebagai penutup. Tiket naik kereta Titihan Samirono Rp.30.000/orang, terbilang cukup mahal dengan kondisi kereta yang bisa dibilang kurang perawatan. Sayang banget ya, padahal banyak looo peminatnya.
Sebelum pulang si mas sempat berbisik kepingin mampir di Musium Transportasi dan Dunia Air Tawar, tetapi berhubung kita pergi bersama, maka kepentingan bersama lah yang harus diutamakan, yaitu pulang dan istirahat, sambil berjanji 'Nanti yaa sayang, kita kesini lagi', ditamah lagi ketika diajak kakak Untsa bilang sudah pernah ke kedua tempat itu. Jadiiii...tunggu cerita kunjungan ke Taman Mini Indonesia Indah berikutnya yaa....
nb : dalam postingan ini jangan nyari foto yang ada akunya yaa pemirsa, karena ngga ada....jadi juru foto doang, ga bisa mejeng eksyen, gapapa lahhh sekali sekali ngga ngeksis :D
Minggu, 28 Desember 2014
Sentul Ecopark, Sentul City
Sepulang dari Bukit Air Resto menuju Jakarta kita pasti melewati Sentul, nah kesempatan yang lagi-lagi sayang dilewatkan (gatellll banget yahh emaknya pengen jalan-jalan terus). Permintaan langsung disetujui sang mantan pacar mengingat waktu Ashar yang juga sudah tiba. Sampai di kawasan Sentul kami langsung parkir menuju Masjid Andalusia, masjid besar yang ada dalam naungan Yayasan Tazkia yang dipimpin oleh M. Syafii Antonio.
Selepas sholat Ashar kami langsung menyebrang ke kantor pemasaran Sentul untuk menaiki jembatan penyebrangan menuju Sentul Ecopark dan Ah poong (sebenarnya tanpa lewat jembayan sih bisa ajaa, tapi gatel kepingin naik jembatannya). Sebelum menaiki jembatan di bagian luar kantor pemasaran juga terdapat beberapa patung besar, dan ada semacam bench (bangku panjang) yang unik.
Jembatan dari kantor pemasaran menuju Sentul Ecopark cukup panjang. Jembatan ini bersih dan nyaman, maka tidak heran banyak orang sibuk foto-foto bahkan lesehan di beberapa pojokan. Sampai di ujung jembatan sampailah kita di kawasan Sentul Ecopark, disni terdapat beberapa alat peraga yang mirip seperti Musium Iptek. Sayangnya ketika di sana kawasan tersebut cukup padat, alat-alat peraganya sulit dicoba bahkan difoto juga sulit karena banyak orang lalu lalang.Tidak jauh dari alat-alat peraga terdapat danau yang digunakan banyak orang bersantai di pinggirnya.
Sehabis memutari Sentul Ecopark lanjut nongkrong ceria (halah apasihh nongkrong ceria) di Ah Poong. Ngga makan lagi pemirsahh, karena perutnya masih kenyang makan di Bukit Air. Akhirnya kita bertiga hanya minum plus si mas makan es krim.
Dari Ah Poong menuju Masjid Andalusia kita melewati jembatan gantung. Nahhh...disinilah sebelnya (hmm...bukan sebel siih sebenernya, tapi takutt, eyke kan takut tinggi sama takut jembatan gantung). Nah pas naik jembatan yang panjang tadi kok ngga takut ? jawabannya takut sebenarnya, tapi di tutupin, so' cool jalan so' nyantai mengingat itu jembatan lebarr (tengsin kalo pegangan) dan ada mas banu, malu ahh sama anak. Jembatan gantung ini juga sebenarnya ditemui di Musium Keprajuritan waktu berkunjung ke Taman Mini Indonesia Indah (ngga diceritain di artikel itu) nah berhubung naik jembatan bareng para bocah (anakku dan ponakanku), tengsin doong kalo tantenya takut sementara anak-anak sekarang udah pada kayak jagoan, jadilah pegangan yang erat dannn senyummm. Trus naik pesawat ngga takut ? nah itulah anehnya, beberapa kali naik pesawat mah kalem aja, ngga takut atau parno sama ketinggian.
Akhirnya setelah sholat Magrib kita bertiga pulang dan beneran pulang langsung kali ini. Lama yaaa dari Ashar sampai Magrib ! nggak juga, karena Asharnya telat kok. Di kawasan Sentul sebenarnya ada beberapa objek lain seperti The Jungle (sudah pernah renang disini bareng sekolahan), Sentul Paradise Park dan Fishing Valley yang belum pernah didatengi. Next kunjungan deh.
Selepas sholat Ashar kami langsung menyebrang ke kantor pemasaran Sentul untuk menaiki jembatan penyebrangan menuju Sentul Ecopark dan Ah poong (sebenarnya tanpa lewat jembayan sih bisa ajaa, tapi gatel kepingin naik jembatannya). Sebelum menaiki jembatan di bagian luar kantor pemasaran juga terdapat beberapa patung besar, dan ada semacam bench (bangku panjang) yang unik.
![]() |
| ini loo bench nya, ada spiral-spiral gitu |
![]() |
| jembatannya, bersih ya ! |
Jembatan dari kantor pemasaran menuju Sentul Ecopark cukup panjang. Jembatan ini bersih dan nyaman, maka tidak heran banyak orang sibuk foto-foto bahkan lesehan di beberapa pojokan. Sampai di ujung jembatan sampailah kita di kawasan Sentul Ecopark, disni terdapat beberapa alat peraga yang mirip seperti Musium Iptek. Sayangnya ketika di sana kawasan tersebut cukup padat, alat-alat peraganya sulit dicoba bahkan difoto juga sulit karena banyak orang lalu lalang.Tidak jauh dari alat-alat peraga terdapat danau yang digunakan banyak orang bersantai di pinggirnya.
![]() |
| Robot Kaleng ! |
Sehabis memutari Sentul Ecopark lanjut nongkrong ceria (halah apasihh nongkrong ceria) di Ah Poong. Ngga makan lagi pemirsahh, karena perutnya masih kenyang makan di Bukit Air. Akhirnya kita bertiga hanya minum plus si mas makan es krim.
Dari Ah Poong menuju Masjid Andalusia kita melewati jembatan gantung. Nahhh...disinilah sebelnya (hmm...bukan sebel siih sebenernya, tapi takutt, eyke kan takut tinggi sama takut jembatan gantung). Nah pas naik jembatan yang panjang tadi kok ngga takut ? jawabannya takut sebenarnya, tapi di tutupin, so' cool jalan so' nyantai mengingat itu jembatan lebarr (tengsin kalo pegangan) dan ada mas banu, malu ahh sama anak. Jembatan gantung ini juga sebenarnya ditemui di Musium Keprajuritan waktu berkunjung ke Taman Mini Indonesia Indah (ngga diceritain di artikel itu) nah berhubung naik jembatan bareng para bocah (anakku dan ponakanku), tengsin doong kalo tantenya takut sementara anak-anak sekarang udah pada kayak jagoan, jadilah pegangan yang erat dannn senyummm. Trus naik pesawat ngga takut ? nah itulah anehnya, beberapa kali naik pesawat mah kalem aja, ngga takut atau parno sama ketinggian.
Akhirnya setelah sholat Magrib kita bertiga pulang dan beneran pulang langsung kali ini. Lama yaaa dari Ashar sampai Magrib ! nggak juga, karena Asharnya telat kok. Di kawasan Sentul sebenarnya ada beberapa objek lain seperti The Jungle (sudah pernah renang disini bareng sekolahan), Sentul Paradise Park dan Fishing Valley yang belum pernah didatengi. Next kunjungan deh.
Bukit Air Resto, Jauh tapiiii Nggak Nyesel
Sepulang kondangan saudara di daerah Parung, Bogor aku langsung cari ide tujuan selanjutnya. Sayang gitu looo udah menempuh perjalanan yang lumayan masak langsung pulang gitu aja. Teringat akan tulisan di sebuah blog (lupa euy blog nya siapa) ada restoran dengan view keren di daerah Ciomas, namanya Bukit Air Resto. Lanjut deh jemari melayang ke Google Maps dan Waze untuk menjadi pemandu. Sayangnya sinyal Waze di Redmi 1s ku ngga bersahabat (karena memang ngga punya pulsa) jadilah pakai Google Maps di ponsel yanda.
Dari lokasi kondangan di daerah Semplak menuju Ciomas dalam peta sih dibilang menempuh waktu sekitar 50 menit-an. Nurut mengikuti arahan maps ternyata jalanan yang dilalui adalah jalan sempit yang kira-kira hanya cukup 1 mobil, jadi kalau ada mobil harus minggir mepet belum lagi banyak motor parkir dan angkot ngetem. Jalan sempit (yang ternyata adalah jalan raya Ciomas) yang hanya layak untuk 1 mobil itu ternyata ngga pendek, panjangg booo....sampai akhirnya ditemukanlah Bukit Air Resto (Thank's to Google Maps). Fiuwh...jalan raya nya kecil yakk.
Cukup kaget juga dengan pemandangan parkiran di Bukit Air Resto, karena jalanan yang kita tempuh bukan terbilang jalan besar, tetapi di kawasan resto parkirannya penuh dengan mobil plat B yang dominan, plus tambahan saung yang penuh saat kita datang. Wiiwww....lokasi terpencil tapi rame yah.
Review soal lokasi, lokasi yang diciptakan Bukit Air Resto memang menyuguhkan pemandangan alam yang natural, dengan lokasi saung yang berpencar sampai ke bukit. Dengan background pemandangan Gunung Salak dan sawah menghijau plus suara gemericik air dari kolam memang terasa sangat menyejukkan. Dengan kondisi itulah maka tak heran penduduk Jakarta dengan minimnya 'warna hijau' rela jauh-jauh kesini (termasuk saya dong yaa). Sayangnya ketika disana passs hujan rintik rintik (yang agak deras) jadilah aku dan kedua pacarku (anak dan suami - red) ngendon di saung, padahal kepingin foto-foto dan mancing tuhh, tapi apalah daya.
Harga makanan yang ditawarkan di Bukit Air Resto juga terbilang terjangkau, dengan menu 'nyunda' dan rasa yang pas di lidah. Rasa masakannya istimewa ? nggak juga, PAS aja sii, kalau di rate yaaa 7,5 lahh, tertutup nilainya dengan poin lebih di pemandangan yang disajikan. Para pengunjung yang datang memang terlihat lahap makan, mungkin salah satu faktornya adalah karena jarak yang ditempuh cukup lumayan, dan rasa lapar memuncak ketika sampai disini. Seperti kondisi aku dan kedua pacar yang langsung menyantap habis makanan yang dipesan.
Tapi perlu diingat bahwa harga makanan yang tertera di menu belum termasuk PPN 10% yaa, dan ini yang menjadi masukkan saya untuk Bukit Air Resto untuk memasukkan pajak tersebut dalam harga yang tertera di menu, supaya ketika bayar ngga kaget, apalagi yang menyiapkan uang cash pas dengan menu yang dipesan (mengingat saat saya kesana sedang tidak bisa bayar dengan debit, sinyalnya error katanya) untung uang di dompet mencukupi.
Dari lokasi kondangan di daerah Semplak menuju Ciomas dalam peta sih dibilang menempuh waktu sekitar 50 menit-an. Nurut mengikuti arahan maps ternyata jalanan yang dilalui adalah jalan sempit yang kira-kira hanya cukup 1 mobil, jadi kalau ada mobil harus minggir mepet belum lagi banyak motor parkir dan angkot ngetem. Jalan sempit (yang ternyata adalah jalan raya Ciomas) yang hanya layak untuk 1 mobil itu ternyata ngga pendek, panjangg booo....sampai akhirnya ditemukanlah Bukit Air Resto (Thank's to Google Maps). Fiuwh...jalan raya nya kecil yakk.
Cukup kaget juga dengan pemandangan parkiran di Bukit Air Resto, karena jalanan yang kita tempuh bukan terbilang jalan besar, tetapi di kawasan resto parkirannya penuh dengan mobil plat B yang dominan, plus tambahan saung yang penuh saat kita datang. Wiiwww....lokasi terpencil tapi rame yah.
Review soal lokasi, lokasi yang diciptakan Bukit Air Resto memang menyuguhkan pemandangan alam yang natural, dengan lokasi saung yang berpencar sampai ke bukit. Dengan background pemandangan Gunung Salak dan sawah menghijau plus suara gemericik air dari kolam memang terasa sangat menyejukkan. Dengan kondisi itulah maka tak heran penduduk Jakarta dengan minimnya 'warna hijau' rela jauh-jauh kesini (termasuk saya dong yaa). Sayangnya ketika disana passs hujan rintik rintik (yang agak deras) jadilah aku dan kedua pacarku (anak dan suami - red) ngendon di saung, padahal kepingin foto-foto dan mancing tuhh, tapi apalah daya.
Harga makanan yang ditawarkan di Bukit Air Resto juga terbilang terjangkau, dengan menu 'nyunda' dan rasa yang pas di lidah. Rasa masakannya istimewa ? nggak juga, PAS aja sii, kalau di rate yaaa 7,5 lahh, tertutup nilainya dengan poin lebih di pemandangan yang disajikan. Para pengunjung yang datang memang terlihat lahap makan, mungkin salah satu faktornya adalah karena jarak yang ditempuh cukup lumayan, dan rasa lapar memuncak ketika sampai disini. Seperti kondisi aku dan kedua pacar yang langsung menyantap habis makanan yang dipesan.
![]() |
| foto dari web liburan anak |
Tapi perlu diingat bahwa harga makanan yang tertera di menu belum termasuk PPN 10% yaa, dan ini yang menjadi masukkan saya untuk Bukit Air Resto untuk memasukkan pajak tersebut dalam harga yang tertera di menu, supaya ketika bayar ngga kaget, apalagi yang menyiapkan uang cash pas dengan menu yang dipesan (mengingat saat saya kesana sedang tidak bisa bayar dengan debit, sinyalnya error katanya) untung uang di dompet mencukupi.
Sabtu, 13 Desember 2014
Floating Market, Lembang
Tulisan ini sebenarnya late post, karena aku dan banu menyusul yanda yang sedang meeting ke Lembang, Bandung akhir November kemarin. Singkat cerita ngga ada perencanaan sama sekali mau nyusul ke Lembang, bisa dibilang ini liburan dadakan. Nyetir mobil ke luar kota berduaan sama banu sebenarnya memang belum pernah sama sekali, paling jauh hanya jakarta dan sekitaran yang rasanya kalau macet sih waktu tempuhnya sama aja dengan ke Bandung. Mengingat ke Bandung tol nya masih terbilang asik (ketimbang ke pantura) dan feeling menyatakan berani, jadilah pulang sekolah si mas langsung jalan.
Karena aku dan mas banu jalan di hari kerja (kamis) dan di jam yang terbilang santay (jam 2 siang) maka terhindar deh dari yang namanya penyakit jalanan alias MACET. Ketemu sama macet hanya ketika perjalanan keluar tol Pasteur sampai Jl.Setiabudi, lanjut naik ke atas ke daerah Lembang bisa dibilang lancar. Kalau ditanya hapal jalanan Bandung si sebenernya nggak juga, tapi kalau sebatas dari keluar tol Pasteur ke Lembang toh hanya tinggal ikutin jalan dari Setiabudi kannn, masih masuk dalam ingatan lahhh.
Sampai di bandung sekitar Magrib dan sekitar jam 7 malem sudah sampai di Hotel Grand Lembang tempat yanda nginep. Sampai kamar hotel lanjut mandi, makan dan tidurrrr (mba sopirnya kecapean,wkwkwk).
Bangun pagi, langsung berpikir mau kemana hari ini sama si mas. Karena yanda akan seharian meeting jadi kalau hanya bunda aja (yang minim pengetahuan soal jalanan di Bandung) dan mas banu berdua yang jalan-jalan maka pilihannya eksplorasi sekitaran Lembang lalu turun ke bawah hanya sebatas sampai Cihampelas. Arah jalanan yang lain blasss...ga ngerti, cari aman daripada nyasar.
Karena hotelnya dekat dengan Floating Market, maka tempat itulah yang jadi tujuan nongkrong bunda dan banu sampai siang. Tahun kemaren ketika kita bertiga liburan di Lembang dan nginep di Sapu Lidi sebenernya ada keinginan mampir di Floating Market, tapi entah kenapa nggak jadi. Jam 9 ketika floating market baru buka aku dan si mas udah nyampe, hehe....mengungsikan mas banu daripada dia recokin yandanya yang lagi konsen depan laptop.
Walaupun baru buka, itu tempat udah rame aja, hanya rombongan besar yang menggunakan bis belum pada muncul. Jadwal operasional Floting Market :
Floating Market ini memang nggak salah jadi tujuan aku dan si mas buat nongkrong lama, karena tempatnya memang asik buat santay. Pemandangan hamparan danau yang luas dikelilingi area hijau dominan yang bersih dan tertata rapih memang bikin betah pengunjung. Sejuk, bersih dan banyak banget spot-spot tempat duduk yang bisa disinggahi. Nggak heran di setiap spot tempat duduk mas banu berhenti dan duduk sejenak, wewww...kapan nyampe ujungnya kl begini.
Di dalam floating market itu ada spot-spot jajanan mulai dari makanan khas sampai makanan modern yang dijajakan diatas perahu, inilah yang menjadi ciri khas floating market. Untuk belanja disini harus menggunakan koin khusus Floating market yang bisa ditukar di stand penukaran koin. Harga jajanan yang ditawarkan terbilang relatif, yaa...harga standard jajanan di tempat wisata lah yaaa (kebayang kann).
Di tempat jajanan si mas tertarik makan sosis dan gula-gula kapas, sementara aku beli satu porsi tutut (keong sawah bumbu pedas) dengan harga Rp.15.000/porsi. Hehe...harga seporsi tutut ini memang terbilang mahal, karena ketika berkunjung ke rumah sepupu di Soreang, Bandung harga tutut hanya 3.000/porsi. Namanya juga tempat wisata, ngga heran dong yaa.
Selain jajanan pada stand perahu, di dalam area Floating Market juga tersedia beberapa restoran makanan tradisional seperti lalapan, nasi liwet dll yang bisa dinikmati di saung-saung tengah sawah. Sayangnya ketika berada disana perut belum nagih makanan berat, jadi jajan di stand perahu saja rasanya sudah bikin perut penuh.
Floating Market juga mempunyai Rumah Kelinci dengan kelinci-kelinci gemuk agresif nan lucu yang mengejar pengunjung. Ini karena jarang dikasih makan atau type kelincinya begini semua ya?, karena ketika aku dan si mas masuk memegang wortel langsung diserbu kawanan kelinci, mas banu sampai lari-lari dikejar-kejar karena dia mau kasih makan ke kelinci yang lain.
Untuk bisa masuk ke taman kelinci pengunjung harus membeli tiket Rp.25.000/orang, tiket yang bisa dibilang mahal untuk sebuah taman kecil dan hanya diperbolehka mengambil 2 buah wortel saja tanpa bisa membeli wortel tambahan. Konsep taman kelinci yang terbuka dan transparant sebenarnya bisa dinikmati tanpa harus membeli tiket masuk, tapi si mas penasaran mau pegang dan kasih makan, jadi bundanya ngalah deh.
Selain Rumah Kelinci ada juga kolam dengan ikan koi besar-besar dan kandang bebek tidak jauh di dalamnya. Pengunjung bisa membeli makanan ikan dan pakan bebek di stand khusus menjual makanan hewan dengan harga Rp.5.000/kantong.
Ada juga bagian alat musik tradisional dalam Floating Market. Disini tersedia gamelan, gong dan angklung yang dipajang dan bisa dicoba langsung.
Floating Market juga menyediakan area outbound di tengah sawah yang bisa disewakan untuk rombongan.
Dan beberapa foto berikut adalah susasana di dalam Floating Market yang menyejukkan mata.
Sebenarnya masih banyak sarana lain dalam Floating Market seperti Taman Miniatur Kereta Api Mini dan sewa perahu yang memutari danau. Hanya saja ketika disana tidak keburu mengeksplorasi semua bagian dikarenakan hujan terus menerus sejak siang (padahal bawa payung tapi malah ditinggal di mobil karena PD pas nyampe masih terang matahari).
Last but not least inilah selfie an kita berdua saat duduk duduk di floating market.
Jadi, mau kemana liburan kali ini ?
Karena aku dan mas banu jalan di hari kerja (kamis) dan di jam yang terbilang santay (jam 2 siang) maka terhindar deh dari yang namanya penyakit jalanan alias MACET. Ketemu sama macet hanya ketika perjalanan keluar tol Pasteur sampai Jl.Setiabudi, lanjut naik ke atas ke daerah Lembang bisa dibilang lancar. Kalau ditanya hapal jalanan Bandung si sebenernya nggak juga, tapi kalau sebatas dari keluar tol Pasteur ke Lembang toh hanya tinggal ikutin jalan dari Setiabudi kannn, masih masuk dalam ingatan lahhh.
Sampai di bandung sekitar Magrib dan sekitar jam 7 malem sudah sampai di Hotel Grand Lembang tempat yanda nginep. Sampai kamar hotel lanjut mandi, makan dan tidurrrr (mba sopirnya kecapean,wkwkwk).
Bangun pagi, langsung berpikir mau kemana hari ini sama si mas. Karena yanda akan seharian meeting jadi kalau hanya bunda aja (yang minim pengetahuan soal jalanan di Bandung) dan mas banu berdua yang jalan-jalan maka pilihannya eksplorasi sekitaran Lembang lalu turun ke bawah hanya sebatas sampai Cihampelas. Arah jalanan yang lain blasss...ga ngerti, cari aman daripada nyasar.
Karena hotelnya dekat dengan Floating Market, maka tempat itulah yang jadi tujuan nongkrong bunda dan banu sampai siang. Tahun kemaren ketika kita bertiga liburan di Lembang dan nginep di Sapu Lidi sebenernya ada keinginan mampir di Floating Market, tapi entah kenapa nggak jadi. Jam 9 ketika floating market baru buka aku dan si mas udah nyampe, hehe....mengungsikan mas banu daripada dia recokin yandanya yang lagi konsen depan laptop.
Walaupun baru buka, itu tempat udah rame aja, hanya rombongan besar yang menggunakan bis belum pada muncul. Jadwal operasional Floting Market :
- Senin – Kamis : buka jam 09.00, tutup jam 17.00
- Jum’at – Sabtu : buka jam 09.00, tutup jam 20.00
- Minggu: buka jam 08.00, tutup jam 20.00
Floating Market ini memang nggak salah jadi tujuan aku dan si mas buat nongkrong lama, karena tempatnya memang asik buat santay. Pemandangan hamparan danau yang luas dikelilingi area hijau dominan yang bersih dan tertata rapih memang bikin betah pengunjung. Sejuk, bersih dan banyak banget spot-spot tempat duduk yang bisa disinggahi. Nggak heran di setiap spot tempat duduk mas banu berhenti dan duduk sejenak, wewww...kapan nyampe ujungnya kl begini.
Di dalam floating market itu ada spot-spot jajanan mulai dari makanan khas sampai makanan modern yang dijajakan diatas perahu, inilah yang menjadi ciri khas floating market. Untuk belanja disini harus menggunakan koin khusus Floating market yang bisa ditukar di stand penukaran koin. Harga jajanan yang ditawarkan terbilang relatif, yaa...harga standard jajanan di tempat wisata lah yaaa (kebayang kann).
Di tempat jajanan si mas tertarik makan sosis dan gula-gula kapas, sementara aku beli satu porsi tutut (keong sawah bumbu pedas) dengan harga Rp.15.000/porsi. Hehe...harga seporsi tutut ini memang terbilang mahal, karena ketika berkunjung ke rumah sepupu di Soreang, Bandung harga tutut hanya 3.000/porsi. Namanya juga tempat wisata, ngga heran dong yaa.
![]() |
| inilah yang namanya tutut |
![]() |
| ada saung tingkat yang bisa disewa untuk kumpul bersama dan makan keluarga besar |
Floating Market juga mempunyai Rumah Kelinci dengan kelinci-kelinci gemuk agresif nan lucu yang mengejar pengunjung. Ini karena jarang dikasih makan atau type kelincinya begini semua ya?, karena ketika aku dan si mas masuk memegang wortel langsung diserbu kawanan kelinci, mas banu sampai lari-lari dikejar-kejar karena dia mau kasih makan ke kelinci yang lain.
Untuk bisa masuk ke taman kelinci pengunjung harus membeli tiket Rp.25.000/orang, tiket yang bisa dibilang mahal untuk sebuah taman kecil dan hanya diperbolehka mengambil 2 buah wortel saja tanpa bisa membeli wortel tambahan. Konsep taman kelinci yang terbuka dan transparant sebenarnya bisa dinikmati tanpa harus membeli tiket masuk, tapi si mas penasaran mau pegang dan kasih makan, jadi bundanya ngalah deh.
Selain Rumah Kelinci ada juga kolam dengan ikan koi besar-besar dan kandang bebek tidak jauh di dalamnya. Pengunjung bisa membeli makanan ikan dan pakan bebek di stand khusus menjual makanan hewan dengan harga Rp.5.000/kantong.
Ada juga bagian alat musik tradisional dalam Floating Market. Disini tersedia gamelan, gong dan angklung yang dipajang dan bisa dicoba langsung.
Floating Market juga menyediakan area outbound di tengah sawah yang bisa disewakan untuk rombongan.
Dan beberapa foto berikut adalah susasana di dalam Floating Market yang menyejukkan mata.
Sebenarnya masih banyak sarana lain dalam Floating Market seperti Taman Miniatur Kereta Api Mini dan sewa perahu yang memutari danau. Hanya saja ketika disana tidak keburu mengeksplorasi semua bagian dikarenakan hujan terus menerus sejak siang (padahal bawa payung tapi malah ditinggal di mobil karena PD pas nyampe masih terang matahari).
Last but not least inilah selfie an kita berdua saat duduk duduk di floating market.
Jadi, mau kemana liburan kali ini ?
Langganan:
Postingan (Atom)






















































