Minggu, 23 Februari 2014

Seminar Director Hari ke-3 : Tenun Ikat Time !!

Dress code seminar hari ini sebenarnya adalah 'Batik'. Tapi para d'BCN-er janjian menggunakan Tenun Ikat. Nah karena warna tidak ditentukan, maka hari ini para peserta seminar keren banget dengan baju berwarna yang cerah.

BPS Serius :D tapi tetep nengok kamera :P


Sesi seminar hari ini adalah menjelaskan tentang keunggulan Nutrishake, skincare dan pengumuman siapa-siapa yang naik 2 title (mak upline Ika Merseana, teh Radita Marfianti, Syamsiyah Herliani/Anie dan salah satu team keren dari surabaya Yenny Adityanata masuk dalam kategori ini) sayangnya Yenny tidak bisa hadir karna baru lahiran baby Nina. Selanjutnya adalah pengumuman TOP15 leader Oriflame indonesia, tau ngga...7 dari Top 15 leader Oriflame indonesia adalah dari d'BCN loo, jadi masih ragu memilih d'BCN sebagai kendaraan untuk mengejar sukses plan di Oriflame ?
 

Leader dari d'BCN yang masuk dalam TOP15 Leader Oriflame Indonesia adalah :
#1 dini shanti
#3 Nadia mutia
#4 Dian endryana
#6 Eka Satriana
#7 dhian maysharah
#8 drg.astriani
#14 evi dewi ranti


Dalam seminar hari ke-3 ini juga diumumkan Gold Conference 2015 nanti akan kemana. Dan jawabannya adalah ke LONDON !!!!! weewwww, keren banget yaaa. Oriflame memang 'kereta impian'. Karena selain Gold Conference ada beberapa challenge lain yang patut diperjuangkan, termasuk reward UMROH !!



 God Conference 2015 

Nah karena setelah seminar hari ke-2 ini beberapa peserta Seminar Director ada yang akan pulang (karena undangan gala dinner diperuntukkan bagi level Director and up dan partner yang boleh dipilih sendiri) maka akhir sesi terakhir langsung jadi moment foto bersama. 

Bersama seluruh jaringan Ika Maerseana

LONDON !!! We're coming !!





 

Sabtu, 22 Februari 2014

Jogja Masih Debu-an Ngga ?

Pertanyaan tentang debu Jogja itu ditanyakan banyak orang yang tahu aku berangkat ke jogja kamis kemaren. Hujan abu vulkanik yang mengguyur Jogjakarta karena meletusnya Gunung Kelud di kediri ini memang terbilang dahsyat, lihat di TV aja abunya masih tebal dan berpotensi mengganggu pernafasan. Makanya sebelum berangkat ke Jogja aku sudah persiapan banyak masker untuk dipakai jalan-jalan disana plus kacamata besar yang warna kacanya terang (jadi kalau dipakai sore atau malam ngga gelap gitu).

Nah, ketika pesawat landing di Yogya landasan pacu Bandara Adi Sutjipto memang sudah bersih, mengingat katanya debu vulkanik ini akan membuat permukaan menjadi licin ketika terkena air, jadi cara membersihkannya harus dengan menyemprot dengan air semprotan yang deras dan kencang (seperti punya pemadam kebakaran).

Di landas pacu pesawat memang sudah bersih, tetapi ketika keluar area penumpang langsung diterjang dengan jalan penuh debu yang bertebaran karena angin dan panas terik. Debu vulkanik ini tebel banget loo, kelihatan dari troroar yang full debu dan daun-daun yang kotor tertutup debu. Penampakan dari jauh si mirip efek dari hujan salju, kalau salju beneran si seru kali yaa, tapi ini debu gituuu yang bikin bersin bersin aku langsung kambuh.

Landas pacu pesawat di Bandara Adi Sutjipto yang sudah bersih


Hari pertama di Kota Pelajar ini memang disambut dengan panas terik yang menusuk kalau kata si abang taksi sejak hujan abu baru 1 kali kota ini diguyur hujan, tapi tetap tidak menyurutkan acara jalan-jalan aku, mama dan mas banu. Setelah sampai di hotel, kami istirahat sebentar lalu lanjut ke toko-toko batik terdekat sambil mencari makanan berbekal kacamata dan masker.

Abu tebal terlihat di semua sudut kota


Daun sampai jadi putih loo


hihi acara belanjanya jadi ngga gaya :)
Jadiii bagi yang tanya Jogja masih debu-an ngga ? jawabannya 'ya' masih, debu yang pasti membuat para penderita alergi debu langsung menderita dan membuat mata jadi perih seketika. Tetapi alhamdulillah sejak hari jum'at sore kemarin dan sabtu sore ini kota Jogja sudah mulai diguyur hujan dan masyarakatnya pun bahu membahu menyiram jalan dengan semprotan air setiap malam, jadi yaaa insyaAllah hujan abu efek meletusnya Gunung Kelud akan berangsur hilang.






Seminar Director Hari ke-2

Setelah dinner ala karnaval tadi malam, hari ini adalah seminar benerannya. Eit's tapi jangan salah, namanya aja yang seminar, tapi rasanya seru, heboh dan benar-benar membuat semangat meningkat tajam. Sesi yang paling ditunggu di seminar hari ini adalah sharing motivasi dari Tung Desem Waringin atau yang biasa disapa Pak TDW.



Dresscode hari ini adalah kaos Seminar Director 2014 yang diberikan saat registrasi kemarin, dan khusus untuk d'BCN-er kita semua janjian untuk memakai manset daleman putih dan jilbab merah marun. Awal masuk ke ruangan seminar di setiap bangku telah tersedia 2 balon panjang warna merah dan putih bertuliskan Oriflame dan Jogja.



Slide pembuka diawali dengan pertanyaan 'Who am 1?' dannn jawabnya adalah 'i'am president !!' Yap, stimulan untuk kita selalu semangat dan selalu ingat tujuan kalau semangat sedang down. Kalau kata cici Chintya Venika yang membuka semangat seminar pagi ini adalah cintai Oriflame dan jangan pernah berhenti. Hehe...iya doong, harus terus semangat.


ini namanya Dhidien, Director kalem dari solo :) 


Hal yang bikin terharu adalah ketika diperlihatkan bahwa di tahun 2000 lalu peserta seminar director Oriflame indonesia itu hanya 28 orang, dan tahun 2014 ini ada 1800 peserta. Sementara tahun 2000 itu seminar di Carita tanpa layar lebar, tanpa slide dan tanpa sound system, hanya berbekal papan tulis dan spidol saja. 14 tahun berselang 10.000 konsultan di thn 2000 kini ada 300.000 konsultan aktif di thn 2014..Amazing yaa perkembangannya, dan terharunya lagi beberapa diantara 28 peserta seminar director 2000 lalu itu masih tetap menjalankan bisnis Orilame nya sampai sekarang dan telah berada pada posisi success plan yang mapan, hiks beneran bikin mewek, ngacaaaa.......dan aku akan terus fokus plus komitment untuk mewujudkan 'i am president'

Dalam sesi Pak TDW ada bebera quote yang sukses bikin terharu juga "Seribu penolakan tidak ada artinya dibandingkan kebahagiaan orang2 yg kita cintai" setujuuuu bangettt. Dan Pak TDW juga selalu mengingatkan bahwa Success recipe adalah punya goal yg jelas dan terukur, punya alasan kenapa goal itu harus segera terwujud dan senantiasa belajar dari yg terbaik. So...kerjakan !!!!


 

Jumat, 21 Februari 2014

Welcome Dinner !!

Welcome dinner yang bertema Carnival meminta para peserta untuk memakai dress code berwarna dengan minimal 3 warna. Nah para d'BCN-ers sudah janjian untuk menggunakan dresscode dalam 3 komposisi warna hitam, merah dan putih.
ready ke welcome dinner

Welcome dinner Seminar Director 2014 ini diadakan di ruangan terbuka bagian depan hotel Hyatt. Kondisi rumput tempat diadakan party tersebut memang becek lantaran hujan yang mengguyur kota Jogjakarta sore tadi, tetapi tetap tidak menyurutkan para peserta seminar untuk bersenang-senang.





Menuju lokasi dinner disuguhkan tampilan lampion warna warni cerah. Karena temanya Carnival, maka di tengah-tengah peserta banyak berkeliaran badut, para pemain sulap serta beragam game seperti tembak balon, face painting, dll ala karnaval. Bintang tamu dalam welcome dinner ini adalah Band Nidji yang sukses membuat para peserta jingkrak-jingkrak.

Seminar Director Oriflame 2014 it's Start From Now !!!

Alhamdulillah aku masih menjadi bagian dalam acara Seminar Director Oriflame yang artinya ini adalah Seminar Director ke-2 setelah Seminar di Bali 2013 kemarin. Berdasarkan room list, aku yang berpartner dengan upline sekaligus sahabat ini ditempatkan di hotel Tentrem, hotel yang terbilang masih baru namun mewah dengan kepemilikan yang sama dengan perusahaan jamu sidomuncul.

Harga per malam di hotel ini terbilang mahal, jadi Alhamdulillah banget yaa bisa merasakan fasilitas hotel bintang 5 yang rasanya kalau musti bayar sendiri itu perlu pemikiran ratusan kali :). Sebelum bersiap-siap untuk Welcome Dinner boleh lah yaaa menikmati nyamannya hotel sejenak.

perlengkapan seminar

ini kamarnya, besar yaa

pemandangan dari balkon kamar



mejeng bareng anie di ruang samping ruang makan

Melihat perjalanan Islam di Kompleks Tamansari Yogyakarta

'Mau kemana hari ini ?', tanya Mba Nita kakak sepupu yang tinggalnya di Jogja. 'Tamansari' dengan spontan kujawab karena memang penasaran dengan Tamansari yang katanya tempat berendemnya raja dan para selir serta anak-anaknya. 'Aku aja belum pernah kesana', jawab kakak sepupuku.

Tamansari memang bukan tempat wisata hiburan atau tempat oleh-oleh yang biasa diburu pengunjung. Karena Tamansari merupakan wisata sejarah yang mungkin membosankan, bahkan penduduk Jogja nya sendiri saja belum tentu pernah kesana. Tetapi aku tetep penasaran dan memang meniatkan harus kesana ketika sampai di Jogja.

Tamansari atau yang biasa disebut dengan Istana Air atau Water Castle ini terletak tidak begitu jauh dari hotel tempat aku, mama dan mas banu menginap (Ibis Style Hotel), yaa sekitar 10 menit lah naik becak (aga' lama karena ada beberapa tanjakan, jadi si abang becak pelan-pelan). Gerbang utama Tamansari awalnya berada di bagian depan katanya, tetapi karena sekarang sudah tertutup pemukiman para abdi dalem keraton (yang menurutku rada semrawut dan ngga tertata) pintu masuk melalui pintu keluar (jadi dibalik). Ketika masuk ke komplek Tamansari kita akan melihat beberapa tembok asli yang kata si mas guide ini menggunakan putih telur dan air nira sebagai perekat bata (air nira bukannya manis ya, rumahnya pada ngga disemutin?).

Bagian belakang yang menjadi tempat masuk istana air

Kompleks pemukiman abdi dalem di luar istana air

tembok asli yang masih direkatkan dengan campuran putih telur dan air nira


Lalu sebelum masuk akan terlihat rumah asli jogja yang katanya ada pusaka-pusaka keraton di dalamnya. Pagar rumah tersebut digembok, jadi aku bfoto pendopo bagian teras rumah dengan naik ke temboknya sedikit. Setelah melihat hasil foto sempat terheran-heran karena sepertinya sering lihat model rumah ini, ngga lama si mas guide bilang 'Kalau mba suka nonton drama FTV yang di SCTV itu nah terasnya suka di sewa mba, terasnya aja tapi, bagian dalam tidak boleh'. Hooo...ic...terjawab pertanyaannya, karena aku sering nonton FTV, walau ceritanya rada aneh-aneh tapi cukup menghibur daripada sinetron.

ini yang sebenarnya pintu masuk, tapi telat tertutup pemukiman


pendopo rumah asli yang dipakai syuting FTV


Tidak jauh dari pintu masuk ada 4 ruang yang katanya sebagai tempat istirahat para pengawal raja. Bagian depan untuk masuk dibuat lebih rendah, kata si mas giude adalah filosofi jawa yang musti menunduk dulu ketika bertemu orang lain. Beberapa langkah ke depan kita akan menemukan pohon dengan buah unik, 'buah kepel' namanya. Konon tanaman kepel adalah tanaman endemik yang dikembangkan oleh abdi dalem keraton yang ketika buahnya matang akan terasa manis untuk disajikan kepada para selir agar keringat mereka wangi (masa siih, sayang buahnya masih mentah, padahal kalau matang boleh diambil katanya)

ruang tempat istirahat para prajurit pengawal raja


ini penampakan buah kepel yang kalau matang akan sebesar kepalan tangan orang dewasa


Perjalanan berlanjut ke lokasi kolam yang digunakan untuk berendem para selir, dan disebelahnya katanya kolam untuk berendam anak-anak. Air di kolam keluar dari patung berbentuk naga dengan ruang kecil yang temboknya dibentuk mirip kubah masjid (jadi raja dulu itu sudah menggunakan filosofi islam, tetapi masih menerapkan sebagian karena konon katanya masih tahap belajar mengenal dan mengamalkan). Di sampingnya (entah samping atau depan yaa) ada ruangan dengan tangga ke atas dan jendela dengan jeruji kayu yang katanya digunakan raja untuk mengamati keluarganya berendam (kata beberapa blog si itu jendela untuk raja mengamati untuk memilih selir mana yang akan menemaninya memberikan pelayanan, iiihhh....jadi berasa aga gimanaa gituu kaum wanita dipilih).

kolam yang masih dikuras karena masih banyak abu vulkanik

tempat raja mengamati keluarganya


Di balik ruangan khusus raja ada ruangan yang jaman sekarang sih disebutnya ruangan spa atau sauna, berarti metode spa sudah dikenal sejak jaman dulu yaa. Di sisi lain ruangan ada kolam kecil yang digunakan khusus untuk berendamnya raja.

tempat sauna raja

kolam khusus raja


Perjalanan di kompleks Tamansari berlanjut ke bagian masjid bawah tanah (apaaaa, jaman dulu udah bisa bikin masjid di bawah tanah??) iyaa loo, dari beberapa spot-spot yang dijelaskan oleh si mas guide itu terbukti kalau jaman dulu sudah mengenal teknologi. Sampai di pintu masuk masjid bawah tanah aku langsung bingung, 'kok diatas, katanya bawah tanah?'. Ternyata dulunya area sekitaran masjid adalah danau (sekarang sudah menjadi pemukiman para abdi dalem keraton dan keluarga), oleh karena itu ketika memasuki masjid kita harus menaiki tangga dulu lalu menuruni lorong (dan ketika sudah turun sih masuk dalam logika kalau dulunya berada di bawah air, karena posisinya ada di bawah pemukiman).

lorong jalan masuk ke masjid

inilah sumur yang dulunya dipakai untuk berwudhu dan 4 tangga dan 1 tangga keatas sebagai filosofi rukun islam


Masjid bawah tanah ini memang bentuknya sama sekali tidak mirip masjid, karena didesain memutar dengan bagian tengah sumur yang dulunya air memancur ke atas lalu digunakan untuk berwudhu. Di sekeliling sumur ada 4 tangga dan 1 tangga penghubung ke bagian atas (jadi lantai paling bawah adalah tempat jamaah wanita dan diatas tempat untuk pria). Total tangga untuk naik ke atas dikabarkan sebagai filosofi rukun islam, 4 tangga di bawah dan 1 tangga pusat ke atas yaitu menjalankan 4 rukun islam pertama (2 kalimat syahadat, sholat, zakat, puasa) lalu puncaknya naik Haji (jika mampu). Karena ruang bawah tanah, maka ketika tiba waktunya sholat sang iman konon tinggal menepuk tanggan yang suaranya bergema ke seluruh ruangan.

Setelah melihat masjid bawah tanah kami pun berjalan jalan di kompleks pemukiman yang juga terdapat gallery-gallery serta melihat langsung beragam aktifitas warga membuat kerajinan sambil mendengarkan si mas guide menjelaskan. Kabarnya lingkungan Tamansari akan di tata oleh keluarga keraton, yaa kalau aku sendiri sebagai wisatawan sih memang merasa seperti semrawut banget disekitarnya, padahal cagar budaya Tamansari ini masuk dalam daftar situs warisan dunia di UNESCO loo, harus dijaga lingkungan sekitarannya.

mejeng di tembok bermotif batik asli jogja

Mas banu serius banget ngeliat bapak pembuat wayang kulit

memberikan titik pada batik yang sudah diberi warna




Kamis, 20 Februari 2014

Mencoba Terbang dari Bandara Halim Perdanakusuma

Semenjak Bandara Halim Perdanakusuma dibuka menjadi Bandara Komersil awal Januari 2014 ini aku langsung excited banget mau berangkat dari sana karena alasan utama lebih deket dari rumah, jadi hemat waktu ketimbang ke Bandara Sukarno Hatta yang perlu menempuh perjalanan lebih dari 2 jam (bahkan bisa lebih kalau macet). Untuk acara Seminar Diretor 2014 ini memang sudah sejak awal mama ku kepingin ikut, lama ngga ke Jogja katanya. Jadilah aku, mama dan anakku berangkat ke jogja sehari sebelum acara seminar untuk jalan-jalan menikmati jogja sebelum sibuk dengan seminar.

Penerbangan komersil yang bisa melalui Bandara Halim ini memang baru maskapai Citilink dengan tujuan yang masih minim, tapi alhamdulillah Jogjakarta masuk di dalamnya, jadi pulang pergi dari bandara lebih dekat. Jadwal Citilink yang kuambil untuk berangkat jam 11.20, berangkat dari rumah dengan kondisi santai dianter Opa jam setengah 10an lewat, itupun sambil beli nasi uduk di pinggir jalan langsung cuss masuk tol dan finally jam 10an lewat dikit sudah sampe bandara. Cepet bangetttt :)

Bandara Halim Perdanakusuma ini memang tidak disulap menjadi bandara komersil yang megah, tapi cukup bersih, rapih dan tertib. Satu hal pasti adalah ngga riweh plus crowded seperti di Soetta. Tempat check ini hanya beberapa langkah aja dari tempat drop off penumpang, lalu kita melewati tangga kebawah seperti terowongan penghubung lalu naik tangga lagi dan taraaaa langsung kelihatan ruang tunggu yang besar dengan kaca dihadapannya dan terlihat jelas pesawat-pesawat yang parkir.

ini koridor penghubung dari tempat check in ke ruang tunggu


Ruang tunggu penumpang, luas ya, dan liat karpetnya, masih bersihh :)

Mas Banu pose di depan pesawat yang parkir
Katanya siih di Bandara Halim ini akan menyusul beberapa Maskapai lain yang akan menggunakannya. Satu hal yang perlu diingat buat para wewenang bandara ini pliss jangan banyak-banyak pesawat komersil yang diijinkan berangkatkan dari sini yaa karena bagaimanapun ini adalah bandara 'tameng udara' nasinal kita yang harus selalu siap sedia. Kan ngga lucu kalau ada sesuatu yang urgent jadi terlambat terbang karena ada pesawat komersil yang sudah terbang duluan.

Senin, 10 Februari 2014

Menuju Seminar Director Oriflame 2014 : Tenun Ikat

Happening soal dress code Seminar Director di Yogyakarta yang tinggal 10 hari lagi ini menjadi trending topic buat anak-anak d'BCN. Pasalnya dalam acara itu semua peserta seminar pasti pengen keliatan cakep dengan baju yang sesuai dress code biar seragam, termasuk team di jaringanku. Yahhh nanti disana pasti akan banyak moment foto-foto bareng sepanjang acara (maklum jarang-jarang kan ketemuannya) secara leader-leader yang biasa ketemuan di dunia maya ini kan domisilinya ngga hanya di jakarta aja, banyak banget yang tinggal di kota lain.

Salah satu dress code yang musti dicari adalah 'tenun ikat'. Maklumm anak jawa, kalau hanya sekedar batik atau pakaian nusantara sih aku punya (yang buat kondangan) tapi kalau tenun ikat nihil. Bahkan ketika Anie kasih tau salah satu dress code nya adalah tenun ikat aku sempet blank, daam hati berpikir 'tenun ikat tuh yang gimana ya motifnya ?' karena yang ada dalam pikiran malahan ulos atau songket. Ngga lama langsung buka tab dan searching 'tenun ikat', jreng jreng keluar deh foto celana panjang dan blus-blus dari tenun ikat dan baru ngeh kalau motifnya yang seperti itu (sering lihat motifnya, tapi kupikir itu songket) :D

Akhirnya senin siang kemarin memutuskan untuk ketemuan sama anie, setting target sambil ngobrol ngalor ngidul lalu jalan-jalan hunting si 'tenun ikat'. Ketika hunting yang ada dalam pikiranku adalah mencari celana panjang (sesuai hasil pencarian di mbah google kebanyakan tenun ikat dibuat celana panjang atau blus, tapi kayaknya bukan type ku untuk pake blus begitu, hehe, ngga PD berasa ibu-ibu banget -> so'muda) :P.

Di toko-toko yang jual tenun ikat yang sudah jadi produk garmen memang rata-rata hanya dijadikan celana panjang dan blus, mengingat jenis bahan dan motifnya yang bisa dibilang lurus-lurus banyak garisnya. Ada beberapa toko yang menjadikan outer semi blazer (naksir berat sebenarnya, tapi harganya itu loo yang bikin ngga jadi naksir, wkwkwk), sempet naksir juga sama tenun ikat yang sudah dijadikan rok panjang (kombinasi tenun ikat motif dan tenun ikat polos) tapi setelah dipikir-pikir takutnya ngga praktis, secara niat pakai sepatu flat, nanti malah repot angkat-angkat rok takut keserimpet (yaah nasipp tinggi badan semampai ). Keputusan akhir adalah samaan sama anie, beli celana panjang yang harganya cukup masuk di akal dan ketika dipake nanti atasannya bisa lebih fleksibel (bisa pakai daleman lalu blazer yang terlihat formil, bisa pakai kaos pinguin yang masih tetep rapih walau terlihat aga' santai, atau pakai kemeja polos juga ca'em kayaknya).

Dan inilah hasilnya celana tenun ikat yang aku beli (so' so an foto ala model, padahal bentuk badan bener-bener jauh dari model, jadi jangan fokus sama pemakainya yaa, fokus lah sama tenun ikatnya) :D xixixi.....

Selasa, 21 Januari 2014

Sang Calon Musisi Menerobos Hujan

Hujan terus menerus yang terjadi lebih dari seminggu ini kalau dituruti yaa enaknya memang untuk bersantai dirumah, tidur-tiduran sambil baca buku lalu kalau laper tinggal makan. Tapi ya masalahnya apa yang mau dimakan kalau malas-malasan keluar rumah karena hujan terus. Mengingat kami bukan keluarga yang berlangganan catering, saya pribadi pun bukan orang yang suka delivery, maunya ya kalau memang sedang malas masak trus keluar cari makanan yang berkenan. Permasalahan lainnya adalah kalau malas-malasan trus si mas sekolah sama siapa ? les sama siapa ? lha wong kemana-mana dia aku yang anter kok (Ibu rumah tangga merangkap ojek pribadi ceritanya). Jadi mau sehat atau lagi ngga enak badan, mau panas terik, hujan deras atau hujan rintik-rintik ngga ada alasan untuk tetap dirumah, tetep musti keluar setiap hari bareng si scoopy pink.

Semenjak satu bulan terakhir semua peralatan tempur untuk menerobos hujan sudah siap dimaksimalkan, jas hujan mas banu kubeli baru karena jas hujan lama rusak, tapi untungnya sepatu boot masih awet jadi ngga usah beli baru. Beberapa kantong plastik tebal dan besar juga sudah diselipkan, mengingat ngga ada bag raincoat untuk model tas ibu-ibu (susah detailnya kali yaa).

Hujan hari ini pun terjadi dari malam hari sebelumnya sampai siang tadi, alhamdulillahnya pas jam 3an mau berangkat ke Yamaha hujannya berhenti. Walau di jalan aga sedikit gerimis tapi kita cuek, toh jaket yang si mas pake berbahan semi parasut, jadi anti air lahh (modus emaknya males bongkar jas hujan). Sebenarnya kondisi apapun, panas lah..hujan lah...jagoanku ini selalu semangat les musik. Entah karena setelah les selalu ada yang dia liat dan minta dibeli (les nya di moll gituuu, cuci mata bangett) atau karena sehabis les selalu makan dulu (niatnya sih biar nyampe rumah tinggal belajar dikit dan main karena kalau malam aku sering adakan training online untuk temen-temen teamku di d'BCn jadi males nyiapin makannya). Tapi dia kelihatannya memang fun di les itu, dan cepet menyerap nada baru (dan emaknya pun mau ngga mau harus menghapal itu nada-nada baru juga) :P jadi berasa les musik too late :D


Teringat waktu tes naik tingkat JMC 1 di Rawamangun tanggal 12 Januari kemaren. Kelas mas banu kedapatan jadwal di jam 4, jam seperti biasa dia les memang, tapi kalau hari minggu kok rasanya aga beda, jam tidur siangnya suka molor. Di hari minggu itu hujan deras terus menerus dari pagi. Saking ademnya mas banu tidur siang pules banget dan susah dibangunin (emaknya juga ngga giat ngebangunin kebawa angin adem yang emang bikin mata merem). Yanda kekeuh nyuruh naik taksi, tapi kalau kondisi hujan lebat pasti macet dimana-mana, mending tetep naik scoopy. Akhirnya dengan segala perlengkapan hujan, kita membuntel diri dan sampai tepat waktu (telat dikit sebenarnya, tapi masih bs dimaafkan lahh).

yang sebelahnya ini namanya key, cewe' banget yaa..


Hal-hal yang dipelajari untuk tes sudah dipelajari sebelumnya di rumah, ngga intens siih karena aku ngga mau memaksakan, dibikin fun aja. Tes solfege, menyanyi lagu pilihan (mas banu pilih kucing-kucing), dan main lagu sendiri mas banu lolos, nada yang dia bawain roti panas dan sepatu. Tapi yang blank adalah ketika baca not balok, perasaan pas dirumah dia bisa deh, kayaknya grogi sama miss cantik yang jadi penilainya...wkwkwk...

look at his style, bootie always :)



Sebenarnya berangkat les musik itu yang males adalah akunya, anaknya si semangat dan senang gembira. Walaupun akunya tetep musti menghapal deretan solfege not-not itu untuk latihan dirumah. Karna dia mau latihan sama siapa lagi gitu. Pernah sekali main keyboard sama yanda dan jadi ngga jelas bunyinya, hehe akhirnya daripada makin kacau tetep digantiin juga (ngga bisa main musik sebenarnya, tapi maksaan harus tau lah minimal, biar bisa dampingin).

Entah nantinya mau ditekuni jadi musisi atau ngga tapi yang pasti bunda membekalimu skill musik ya nak, semoga bermanfaat :)

Nah sekali lagi, itulah asiknya mendampingi masa keemasan anak. Perasaannya nano-nano, kadang marah semarah marahnya karna rempong abis dan seringkali anak ngga kooperatif, seru dan ecited ngeliat cara bermain dia, dan nambah ilmu juga tentunya, karna si mas kubelikan macam-macam buku, dia suka minta dibacain dan beberapa hal aku sendiri pun ngga tau, xixixi, belajar bareng ceritanya.




Kamis, 09 Januari 2014

Bisnis Sambil Jaga Anak Perkara Mudah ? Kata Siapa ?!!?

Keputusan untuk menjadi ibu rumah tangga full memang bukan keputusan yang mudah pastinya. Seperti langkah terbesarku untuk mantap keluar dari dunia kewartawanan dan memutuskan untuk menjalankan bisnis di rumah sambil jaga anak. Tanggapan dari teman-teman dekat hampir rata-rata, 'Wah enak dong yaa, bisa tetep dapet penghasilan di rumah sambil main sama anak', 'Wah enak di, ngga perlu macet-macetan lagi, ngga khawatir tua di jalan' dan beberapa tanggapan positif lainnya.

Ya, berbisnis dirumah itu menjadi pilihan alternatif agar otak selalu produktif (merasa sayang karena sudah sekolah sekian lama). Selama ini ketika saya bekerja mas banu jagoan kecilku dititipkan di mama. Mama memang tidak keberatan dititipkan cucu tersayang, tapi bagaimanapun saya merasa beban, karena tidak mau melewati masa keemasan anak begitu saja, 'anak adalah titipan Allah, masa mau dititipkan lagi ?' singkat logika nya seperti itu sih kira-kira.

Transformasi dari ibu bekeja menjadi ibu rumahtangga full memang tidak mudah. Rencana yang awalnya dibuat se-presisi mungkin dengan jadwal diatas kertas dengan pembagian waktu mengantar sekolah, menjemput, mengantar les, menjemput, menyiapkan masakan (entah itu masak atau membeli makanan jadi di luar toh tetap membutuhkan waktu), mendampingi belajar, sholat, mengaji, bermain sudah diatur di jam-jam yang tepat (menurut saya). Rencana si memang begitu, tapi prakteknya ? hehe....lumayan rumit, karena dalam masa adaptasi aku seperti memberi sedikit kebebasan dalam diri (kebebasan yang lama-lama kebablasan). Kebablasannya si memang bukan sesuatu hal yang merugikan malah menyenangkan. karena yang seharusnya aku bisa mengerjakan bisnis di kala anakku tidur siang malah tidak terlaksana karena tergoda ikutan tidur siang. Waktu yang diatas kertas adalah jadwal 'belajar bersama' bisa berubah menjadi 'bermain bersama'. Kadang mengerjakan to do list ketika anak sedang bermain, tapi ya namanya anak-anak ngeliat bundanya di depan laptop penasaran mau tau dan berubah jadi minta liat gambar-gambar kartun. Belum lagi kertas-kertas penting yang dicorat coret dengan gambar-gambar 'kekuatan' ala superhero khayalannya. Yah...namanya juga anak-anak. Banyak lagi hal-hal lain yang menyadarkanku bahwa 'ya kan namanya full time mom, memang anak maunya full time'.

Muka lucu si jagoan ini yang selalu menyegarkan hati dan otak ;)


Seiring dengan waktu aku juga bisa lihai mencari celah, intinya haruss tetap produktif karena bagaimanapun anak adalah konsumen pertama kita yang harus segera dilayani. Yang pasti aku akan selalu berusaha mengikuti perkembangan jaman dan teknologi agar imbang dengan pengetahuan anakku. Karena harapanku bisa menjadi ibu sekaligus guru dan sahabat untuk anakku. Jadi para ibu-ibu muda, jangan mengatasnamakan repot mengurus anak dan repot mengurus rumah sebagai alasan untuk tidak mau menambah ilmu yaa. Kata pepatah, 'kejarlah ilmu sampai ke negeri cina'. Ngga usah jauh-jauh ke cina beneran dehh, kita tengok aja dari internet, bisa kok. Internet bisa menjadi jendela dunia yang akan memperluas pengetahuan dan pergaulanmu.

Nah, kalau mau menambah ilmu sambil bisnis ya memang paling seru di d'BCN, ilmu dapet, teman makin banyak dan rekening ada yang ngisi asalkan beneran ngerjain bisnisnya yaa :)